
Identity Governance Enterprise: Kontrol & Kepatuhan
September 26, 2025
Passwordless Authentication untuk Perusahaan
September 29, 2025Apa Itu Zero Trust Security? Membedah Standar Baru Keamanan Siber Modern

Di era digital seperti ini, pendekatan keamanan tradisional yang mengandalkan batas jaringan internal sudah tidak lagi memadai untuk mendukung keamanan di era modern. Keseluruhan aktivitas di dalam jaringan perusahaan yang dianggap aman justru meninggalkan celah besar yang sering dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber.
Untuk menjawab tantangan tersebut, banyak organisasi kini mengadopsi pendekatan Zero Trust Security. Pendekatan ini menekankan prinsip kehati-hatian: setiap akses harus diverifikasi, tanpa asumsi kepercayaan otomatis. Zero Trust bukan sekadar tren teknologi, melainkan perubahan mendasar dalam cara perusahaan melindungi data dan sistem bisnisnya.
Apa Itu Zero Trust Security?
Zero Trust Security adalah model keamanan siber yang beroperasi dengan prinsip “jangan pernah percaya, selalu verifikasi” (never trust, always verify). Pendekatan ini tidak lagi mengandalkan asumsi bahwa pengguna atau perangkat otomatis aman hanya karena berada di dalam jaringan perusahaan.
Berbeda dengan model keamanan tradisional, Zero Trust berangkat dari asumsi bahwa ancaman dapat muncul dari mana saja, baik dari luar maupun dari dalam organisasi. Karena itu, setiap upaya akses ke sistem atau data perusahaan harus melalui proses verifikasi identitas yang ketat, baik oleh pengguna maupun perangkat yang digunakan, tanpa memandang lokasi atau jaringan yang mereka gunakan.
Zero Trust menghilangkan konsep kepercayaan implisit. Setiap permintaan akses harus diautentikasi, diotorisasi, dan dienkripsi sebelum diberikan izin.
Pelajari Zero Trust Security
Zero Trust Security merupakan strategi keamanan yang kini menjadi kebutuhan mendesak bagi organisasi di tengah tingginya risiko serangan siber dan penyalahgunaan akses.
Zero Trust Security
Perdalam pemahaman Anda tentang Zero Trust Security dan pelajari prinsip serta penerapannya secara menyeluruh dengan mengunduh PDF ini. Keamanan data Anda menjadi prioritas kami.
Prinsip Utama Zero Trust Security
Seiring meningkatnya kompleksitas ancaman siber, penerapan Zero Trust tidak cukup hanya sebagai konsep, tetapi harus diwujudkan melalui prinsip-prinsip operasional yang jelas.
Prinsip-prinsip inilah yang menjadi fondasi dalam memastikan bahwa setiap akses ke sistem perusahaan benar-benar aman, terkontrol, dan dapat dipertanggungjawabkan. Untuk menerapkan arsitektur Zero Trust secara efektif, organisasi perlu mematuhi beberapa pilar utama berikut.
1. Continuous Monitoring and Validation
Dalam Zero Trust, verifikasi tidak berhenti pada proses login awal. Sistem harus terus memantau dan memvalidasi identitas serta hak akses pengguna selama sesi berlangsung. Pendekatan ini memastikan bahwa akun yang sah tidak disalahgunakan atau dibajak di tengah aktivitas.
2. Least Privilege Access
Prinsip ini membatasi akses pengguna hanya pada data dan aplikasi yang benar-benar dibutuhkan untuk menjalankan tugasnya. Dengan ruang akses yang minimal, dampak kerusakan akibat pelanggaran akun dapat ditekan secara signifikan.
3. Device Access Control
Keamanan tidak hanya bergantung pada siapa yang mengakses sistem, tetapi juga pada perangkat yang digunakan. Zero Trust memastikan bahwa setiap perangkat, baik laptop maupun smartphone, telah memenuhi standar keamanan dan kepatuhan sebelum diizinkan terhubung ke jaringan perusahaan.
4. Microsegmentation
Dalam pendekatan ini, jaringan dibagi menjadi segmen-segmen kecil yang saling terisolasi. Jika terjadi pelanggaran pada satu segmen, peretas tidak dapat dengan mudah menyebar ke area lain, sehingga dampak insiden dapat dibatasi.
5. Preventing Lateral Movement
Salah satu tujuan utama Zero Trust adalah mencegah pergerakan penyerang di dalam sistem internal. Melalui kontrol akses yang ketat dan segmentasi jaringan, upaya peretas untuk berpindah dari satu sistem ke sistem lain dapat dihentikan sejak dini.
6. Multi-Factor Authentication (MFA)
MFA adalah garis pertahanan kritis dalam Zero Trust. Sistem ini mewajibkan lebih dari satu bukti identitas untuk memberikan akses. Adaptist Prime menyediakan fitur ini dengan conditional access yang adaptif berdasarkan lokasi dan perangkat.
Manfaat Menerapkan Zero Trust Security
Meningkatnya kompleksitas ancaman siber mendorong organisasi untuk mencari pendekatan keamanan yang lebih adaptif dan terukur. Zero Trust Security hadir bukan hanya sebagai kerangka teknis, tetapi sebagai strategi yang memberikan manfaat nyata bagi perlindungan data, stabilitas operasional, dan pengelolaan risiko jangka panjang.
Berikut adalah sejumlah manfaat utama yang banyak dirasakan organisasi setelah mengadopsi pendekatan Zero Trust.
1. Adopsi Zero Trust yang Semakin Luas
Zero Trust bukan lagi konsep eksperimental, melainkan pendekatan keamanan yang sudah diadopsi secara masif. Survei global dari Gartner menunjukkan bahwa sekitar 63% organisasi di dunia telah mengimplementasikan strategi Zero Trust, baik secara penuh maupun bertahap. Angka ini mencerminkan pengakuan industri bahwa model keamanan tradisional sudah tidak lagi memadai untuk menghadapi ancaman modern berbasis cloud dan kerja hybrid.
2. Penurunan Insiden Keamanan Secara Signifikan
Salah satu manfaat paling nyata dari Zero Trust adalah berkurangnya insiden keamanan. Riset industri menunjukkan bahwa organisasi yang menerapkan Zero Trust mengalami hingga 42% lebih sedikit insiden keamanan dibandingkan dengan organisasi yang masih menggunakan model perimeter tradisional. Selain itu, sekitar 87% perusahaan yang telah mengadopsi Zero Trust melaporkan penurunan jumlah serangan yang berhasil menembus sistem mereka.
3. Deteksi dan Respon Ancaman Lebih Cepat
Zero Trust membantu organisasi mendeteksi dan merespons ancaman dengan lebih cepat karena setiap akses diverifikasi secara berkelanjutan. Studi menunjukkan bahwa perusahaan yang menerapkan Zero Trust mampu mempercepat waktu deteksi dan respons terhadap insiden hingga 50%. Kecepatan ini sangat krusial, mengingat semakin lama sebuah serangan tidak terdeteksi, semakin besar pula dampak kerugian yang ditimbulkan.
4. Pengurangan Biaya Akibat Kebocoran Data
Manfaat Zero Trust tidak hanya dirasakan dari sisi teknis, tetapi juga finansial. Laporan IBM Cost of a Data Breach mengungkapkan bahwa organisasi dengan penerapan Zero Trust dan kontrol identitas yang matang dapat mengurangi biaya kebocoran data hingga sekitar 30% dibandingkan dengan organisasi tanpa pendekatan tersebut. Dengan rata-rata biaya kebocoran data global mencapai jutaan dolar, penghematan ini menjadi nilai bisnis yang signifikan.
5. Penguatan Postur Keamanan dan Kepatuhan
Zero Trust membantu perusahaan membangun postur keamanan yang lebih konsisten dan terukur. Sekitar 72% organisasi menyatakan bahwa penerapan Zero Trust meningkatkan visibilitas dan kontrol akses terhadap data sensitif mereka. Hal ini juga mempermudah pemenuhan regulasi keamanan dan perlindungan data, karena setiap akses tercatat dan dapat diaudit secara jelas.
6. Perlindungan Lebih Baik terhadap Ancaman Berbasis Identitas
Ancaman siber modern semakin banyak mengeksploitasi identitas pengguna yang sah. Data industri menunjukkan bahwa hampir 49% serangan siber melibatkan kredensial yang valid. Zero Trust secara langsung menargetkan risiko ini dengan prinsip verifikasi berkelanjutan dan pembatasan hak akses. Hasilnya, organisasi yang menerapkan Zero Trust lebih siap menghadapi serangan berbasis pencurian identitas dan penyalahgunaan akun internal.
Bagaimana Zero Trust Security Bekerja
Berbeda dengan pendekatan keamanan konvensional yang memberikan kepercayaan penuh setelah akses awal, Zero Trust bekerja melalui rangkaian proses verifikasi otomatis setiap kali permintaan akses dilakukan. Seluruh proses ini terjadi sangat cepat, tetapi dirancang untuk memastikan bahwa hanya akses yang benar-benar sah dan sesuai kebijakan yang dapat diterima. Berikut adalah tahapan umum dalam implementasi Zero Trust Security.
1. Permintaan Akses
Proses dimulai saat pengguna atau perangkat mencoba mengakses aplikasi, file, atau server tertentu. Dalam arsitektur Zero Trust, permintaan ini tidak langsung diteruskan, melainkan dicegat terlebih dahulu untuk melalui proses validasi.
2. Verifikasi Identitas
Sistem kemudian memverifikasi identitas pengguna melalui mekanisme autentikasi terpusat. Pendekatan seperti Single Sign-On (SSO) memungkinkan sistem memastikan bahwa identitas pengguna benar dan terdaftar, tanpa harus melakukan login berulang di setiap aplikasi. Dasar dari proses ini dibangun di atas konsep Identity Access Management (IAM).
Siap Mengelola Identitas Digital sebagai Strategi Keamanan Bisnis?
Request demo sekarang dan pelajari bagaimana solusi IAM membantu memusatkan proses login pengguna melalui Single Sign-On (SSO), mengotomatisasi onboarding karyawan, serta melindungi data perusahaan dari akses tidak sah tanpa mengganggu produktivitas akibat login berulang.
3. Validasi Konteks & Perangkat
Setelah identitas dikonfirmasi, sistem menilai konteks akses secara menyeluruh. Evaluasi ini mencakup kondisi perangkat yang digunakan, tingkat keamanannya, serta faktor lingkungan seperti lokasi atau IP address. Jika ditemukan indikasi risiko atau anomali, sistem dapat langsung menolak akses.
4. Penerapan Kebijakan (Policy Check)
Permintaan akses yang lolos tahap sebelumnya kemudian dibandingkan dengan kebijakan keamanan organisasi. Pada tahap ini, sistem menentukan apakah pengguna memiliki hak akses yang sesuai berdasarkan peran dan tanggung jawabnya (role-based access control).
5. Pemberian Akses Terbatas
Jika seluruh persyaratan terpenuhi, sistem memberikan akses secara terbatas hanya ke sumber daya yang diminta dan hanya selama sesi tersebut berlangsung. Tidak ada pemberian akses jaringan secara menyeluruh sebagai standar.
6. Monitoring Berkelanjutan
Keamanan tidak berhenti setelah akses diberikan. Selama sesi aktif, sistem terus memantau aktivitas pengguna secara real time. Jika terdeteksi perilaku mencurigakan, seperti aktivitas tidak wajar atau upaya pengambilan data dalam jumlah besar, akses dapat dihentikan seketika.
Contoh Zero Trust Security dalam Praktik
Penerapan Zero Trust tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga tercermin nyata dalam berbagai teknologi keamanan modern yang secara bertahap menggantikan pendekatan lama. Teknologi-teknologi ini dirancang untuk menghilangkan kepercayaan implisit dan memastikan bahwa setiap akses benar-benar dibatasi, diverifikasi, dan diawasi sesuai kebutuhan.
- Penggantian VPN dengan ZTNA (Zero Trust Network Access)
Berbeda dengan VPN tradisional yang memberikan akses luas ke jaringan internal, ZTNA membangun koneksi terenkripsi secara langsung antara pengguna dan aplikasi yang dituju. Pengguna hanya dapat melihat dan mengakses aplikasi yang memang diizinkan, sementara sistem dan aplikasi lain di jaringan tetap tersembunyi (invisible). Pendekatan ini secara signifikan mengurangi permukaan serangan. - Micro-segmentation
Microsegmentation memisahkan infrastruktur menjadi segmen-segmen kecil dengan kontrol akses yang ketat. Contohnya, server aplikasi web dipisahkan dari server database pelanggan. Dengan cara ini, meskipun satu sistem berhasil ditembus, penyerang tidak dapat secara otomatis mengakses sistem lain tanpa melewati proses autentikasi tambahan. - Autentikasi Biometrik & MFA
Zero Trust mengandalkan autentikasi berlapis, termasuk faktor biometrik, untuk memastikan identitas pengguna secara lebih akurat. Metode seperti sidik jari atau pengenalan wajah digunakan sebagai bukti identitas unik, lalu dikombinasikan dengan faktor tambahan seperti kode OTP atau persetujuan melalui aplikasi. Pendekatan ini memastikan bahwa akses tidak hanya bergantung pada kata sandi, tetapi pada kombinasi beberapa faktor keamanan yang lebih kuat.
Cara Implementasi Zero Trust Security
Menerapkan Zero Trust Security bukanlah proses instan atau sekadar mengganti satu teknologi dengan teknologi lain. Zero Trust merupakan perubahan cara pandang terhadap keamanan, yang perlu diterapkan secara bertahap dan terukur. Pendekatan ini membantu organisasi meningkatkan keamanan tanpa mengganggu operasional bisnis yang sudah berjalan. Berikut adalah langkah-langkah strategis yang umum digunakan untuk memulai dan membangun arsitektur Zero Trust secara efektif.
1. Identifikasi Protect Surface
Langkah awal dalam Zero Trust adalah menentukan apa yang paling perlu dilindungi. Alih-alih mencoba mengamankan seluruh jaringan sekaligus, organisasi perlu mengidentifikasi protect surface, yaitu kumpulan data, aplikasi, aset, dan layanan (Data, Applications, Assets, Services / DAAS) yang paling kritis bagi operasional dan kelangsungan bisnis.
Contohnya bisa berupa data pelanggan, sistem keuangan, atau aplikasi inti perusahaan. Dengan memusatkan perlindungan pada area bernilai tinggi terlebih dahulu, organisasi dapat mengelola risiko secara lebih realistis dan efektif.
2. Petakan Arus Transaksi
Setelah protect surface ditentukan, langkah berikutnya adalah memahami bagaimana data dan akses mengalir di dalam sistem. Organisasi perlu mengetahui siapa yang mengakses data sensitif, dari perangkat dan lokasi mana, serta pada waktu kapan akses tersebut terjadi.
Pemetaan arus transaksi ini memberikan gambaran nyata tentang pola penggunaan sistem dan membantu menentukan titik-titik kontrol keamanan yang paling tepat untuk diterapkan.
3. Bangun Arsitektur Zero Trust
Berdasarkan pemetaan tersebut, arsitektur jaringan kemudian dirancang ulang dengan prinsip segmentasi mikro (microsegmentation). Setiap segmen dilindungi secara terpisah dan diawasi oleh komponen pengendali kebijakan seperti Next-Generation Firewall (NGFW) atau Zero Trust Network Access (ZTNA) gateway.
Pendekatan ini memastikan bahwa akses antarsistem tidak terjadi secara otomatis, melainkan harus melalui proses verifikasi dan kebijakan yang telah ditentukan.
4. Buat Kebijakan Zero Trust
Zero Trust sangat bergantung pada kebijakan akses yang jelas dan terperinci. Salah satu pendekatan yang umum digunakan adalah Kipling Method, yang mendefinisikan akses berdasarkan pertanyaan mendasar: siapa yang mengakses, apa yang diakses, kapan, dari mana, mengapa, dan bagaimana akses tersebut dilakukan.
Kebijakan ini harus selaras dengan prinsip least privilege, yaitu memberikan hak akses seminimal mungkin sesuai kebutuhan pekerjaan. Untuk akses dengan tingkat risiko tinggi, pendekatan seperti Privileged Access Management (PAM) sering digunakan sebagai lapisan kontrol tambahan.
5. Monitor dan Pertahankan
Zero Trust bukanlah sistem yang bersifat statis. Setelah diterapkan, organisasi perlu terus memantau aktivitas akses, meninjau log keamanan, serta menganalisis potensi insiden. Perubahan pola kerja, pertumbuhan bisnis, dan evolusi ancaman siber menuntut kebijakan keamanan untuk selalu diperbarui. Dengan pemantauan berkelanjutan dan respons yang cepat, risiko dapat dideteksi dan ditangani sebelum berkembang menjadi insiden besar.
Kesimpulan
Zero Trust Security bukan lagi pilihan opsional bagi perusahaan yang serius melindungi aset digitalnya. Di era di mana batas jaringan telah hilang, identitas adalah perimeter baru.
Menerapkan Zero Trust membutuhkan kombinasi strategi yang tepat dan teknologi yang andal. Solusi manajemen akses yang holistik dan cost-effective sangat diperlukan untuk menggantikan sistem terfragmentasi yang mahal.
Dengan menggabungkan IAM (Akses) dan IGA (Governance), Anda memastikan orang yang tepat mendapatkan akses yang tepat pada waktu yang tepat. Ini adalah langkah kunci untuk memitigasi risiko sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.
Dengan dukungan, perusahaan Anda dapat membangun ekosistem digital yang aman, hemat waktu, dan siap berkembang tanpa mengorbankan perlindungan data atau kenyamanan pengguna.
FAQ
Investasi awal memang diperlukan, namun model ini justru lebih efisien dalam jangka panjang. Zero Trust menggantikan sistem keamanan terfragmentasi yang mahal dengan satu platform terpadu, sehingga mengurangi biaya lisensi ganda.
Secara bertahap, ya. VPN tradisional memberikan akses jaringan penuh yang berisiko terhadap kerentanan (vulnerability) jika kredensial pengguna dicuri. Sebaliknya, Zero Trust menerapkan kontrol akses adaptif dan spesifik hanya untuk aplikasi yang dibutuhkan, meminimalkan celah keamanan.
Zero Trust menerapkan prinsip least privilege, memastikan data pribadi hanya diakses oleh pihak yang berkepentingan. Ini selaras dengan kewajiban menjaga kerahasiaan data dalam regulasi kepatuhan.
Tentu saja. Ancaman siber tidak memandang ukuran bisnis. Adaptist menawarkan skalabilitas yang dirancang untuk tumbuh bersama bisnis Anda, mulai dari skala menengah hingga korporasi besar.
Tidak, jika diimplementasikan dengan benar menggunakan teknologi seperti Single Sign-On (SSO). Justru, SSO memungkinkan akses satu klik ke seluruh aplikasi, yang meningkatkan produktivitas sekaligus keamanan.



