
8 Manfaat AI Ticketing System: Solusi Layanan Pelanggan 24/7
November 7, 2025
Mengamankan Akses Operasional di Industri Manufaktur yang Terkoneksi
November 7, 20258 Cara Ampuh untuk Mengelola Keluhan Pelanggan

Dalam lingkungan bisnis saat ini, kualitas layanan dan operasional harus terus dijaga seiring dengan meningkatnya ekspektasi pelanggan. Tidak ada perusahaan yang sepenuhnya terbebas dari keluhan, bahkan yang memiliki produk dan layanan terbaik sekalipun. Keluhan pelanggan merupakan bagian alami dari interaksi bisnis yang perlu dikelola dengan baik.
Bagi perusahaan yang matang, keluhan pelanggan bukanlah pertanda kegagalan, melainkan sumber informasi penting untuk melakukan perbaikan. Cara perusahaan merespons keluhan sering kali memiliki dampak yang lebih besar terhadap reputasi dibandingkan produk itu sendiri. Penanganan yang kurang tepat dapat memperburuk citra perusahaan, terutama di era media sosial, sementara respons yang cepat dan tepat justru dapat membangun kepercayaan serta loyalitas pelanggan.
Apa Itu Keluhan Pelanggan?
Keluhan pelanggan adalah ekspresi ketidakpuasan atas kesenjangan antara ekspektasi pelanggan dan realitas layanan yang mereka terima. Ini bisa berupa keluhan teknis mengenai fitur produk, keluhan emosional mengenai sikap staf, atau keluhan administratif terkait proses penagihan.
Dalam manajemen layanan, keluhan pelanggan dapat dipandang sebagai data awal yang belum diolah. Di balik nada kecewa atau emosi pelanggan, tersimpan informasi penting mengenai titik-titik lemah dalam proses bisnis. Jika keluhan ini diabaikan, maka potensi masalah yang sama akan terus berulang dan berdampak pada kualitas layanan secara keseluruhan.
Perlu dipahami bahwa tidak semua pelanggan yang kecewa akan menyampaikan keluhannya secara langsung. Banyak pelanggan memilih berhenti menggunakan layanan dan beralih ke kompetitor tanpa memberikan umpan balik. Oleh karena itu, setiap keluhan yang diterima seharusnya diperlakukan sebagai peluang berharga untuk memperbaiki layanan dan mempertahankan hubungan jangka panjang dengan pelanggan.
Mengapa Penanganan Keluhan Pelanggan Penting Bagi Perusahaan?
Mengalokasikan sumber daya untuk membangun sistem manajemen keluhan (Complaint Management System) bukan sekadar upaya menangani masalah yang muncul sesaat. Langkah ini merupakan bagian dari strategi bisnis jangka panjang yang berperan melindungi perusahaan sekaligus mendorong pertumbuhan. Oleh karena itu, pengelolaan keluhan pelanggan menjadi aspek yang krusial dan perlu mendapat perhatian serius dari para pengambil keputusan di tingkat manajemen.
1. Meningkatkan Loyalitas dan Retensi Pelanggan
Biaya untuk mengakuisisi pelanggan baru (Customer Acquisition Cost) jauh lebih tinggi dibandingkan biaya mempertahankan pelanggan lama. Pelanggan yang keluhannya diselesaikan dengan efektif sering kali menunjukkan tingkat loyalitas yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak pernah mengalami masalah sama sekali. Fenomena ini dikenal sebagai Service Recovery Paradox.
Dengan menangani keluhan secara cepat, Anda membuktikan komitmen perusahaan terhadap kepuasan mereka. Hal ini membangun ikatan emosional dan kepercayaan bahwa perusahaan Anda akan selalu ada untuk memberikan solusi, bukan hanya sekadar berjualan. Retensi yang tinggi secara langsung berkorelasi dengan stabilitas pendapatan jangka panjang.
2. Menjaga Reputasi dan Citra Brand di Mata Publik
Di era digital, keluhan tidak lagi bersifat pribadi antara pelanggan dan perusahaan. Satu ulasan negatif di Google Review atau utas viral di Twitter dapat merusak reputasi yang dibangun bertahun-tahun. Konsumen modern cenderung melakukan riset daring sebelum melakukan pembelian B2B maupun B2C.
Penanganan keluhan yang proaktif mencegah eskalasi masalah ke ranah publik. Ketika Anda merespons dengan cepat di saluran privat atau publik, audiens lain melihat bahwa merek Anda bertanggung jawab. Ini meminimalisir dampak negatif dan menunjukkan kedewasaan profesional perusahaan Anda.
3. Sumber Insight untuk Peningkatan Kualitas Produk
Setiap keluhan mengandung data empiris tentang apa yang salah dalam produk atau SOP Anda. Apakah ada bug dalam aplikasi? Apakah instruksi penggunaan membingungkan? Atau apakah tim logistik sering terlambat?
Analisis agregat dari keluhan pelanggan memberikan wawasan yang tidak bisa didapatkan dari survei pasar biasa. Data ini memungkinkan tim produk dan manajemen untuk melakukan perbaikan yang presisi dan berbasis data, bukan asumsi. Anda dapat menggunakan insight ini untuk analitik layanan pelanggan guna keputusan strategis enterprise yang lebih akurat.
4. Mengubah Pengalaman Negatif Menjadi Kepercayaan Jangka Panjang
Kepercayaan dalam hubungan B2B dibangun di atas konsistensi dan reliabilitas, terutama saat krisis terjadi. Kemampuan untuk mengakui kesalahan dan memperbaikinya secara transparan adalah indikator integritas perusahaan.
Pelanggan yang melihat Anda menangani masalah mereka dengan serius akan merasa dihargai. Rasa hormat ini adalah fondasi dari kemitraan bisnis jangka panjang (Long-Term Partnership). Mereka akan lebih toleran terhadap kesalahan kecil di masa depan karena mereka tahu Anda memiliki mekanisme penyelesaian yang dapat diandalkan.
8 Cara Menangani Keluhan Pelanggan dengan Baik dan Efektif
Mengelola keluhan memerlukan kombinasi antara soft skill (empati, komunikasi) dan hard skill (sistem, prosedur). Berikut adalah delapan langkah taktis yang harus diadopsi oleh tim layanan pelanggan Anda.
1. Dengarkan Keluhan dengan Empati dan Aktif
Langkah pertama adalah membiarkan pelanggan menyampaikan seluruh kekecewaan mereka tanpa interupsi. Terapkan active listening, di mana agen tidak hanya mendengar kata-kata, tetapi juga menangkap emosi di baliknya. Jangan terburu-buru memberikan justifikasi atau pembelaan diri.
Sering kali, pelanggan hanya ingin merasa didengar dan divalidasi perasaannya. Gunakan frasa yang menunjukkan pemahaman, seperti “Saya mengerti betapa frustrasinya situasi ini bagi bisnis Anda.” Validasi ini menurunkan tensi emosional dan membuka jalan menuju diskusi yang rasional.
2. Identifikasi Akar Masalah Secara Spesifik
Setelah emosi mereda, alihkan fokus ke investigasi fakta. Ajukan pertanyaan terarah untuk menggali detail masalah: “Kapan error ini muncul?” atau “Fitur mana yang tidak berfungsi?”. Tujuan Anda adalah menemukan root cause, bukan sekadar gejala.
Hindari asumsi dini yang bisa menyesatkan proses penyelesaian. Pastikan tim Anda memiliki akses ke riwayat interaksi pelanggan untuk memahami konteks masalah secara utuh. Jika diperlukan, lakukan prioritas tiket agar masalah kritis dapat diidentifikasi lebih cepat dibanding isu minor.
3. Sampaikan Permintaan Maaf yang Tulus dan Profesional
Permintaan maaf adalah jembatan rekonsiliasi. Namun, hindari permintaan maaf bersyarat seperti “Maaf jika Anda merasa terganggu,” karena ini terkesan menyalahkan sensitivitas pelanggan. Gunakan kalimat langsung: “Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi akibat keterlambatan ini.”
Akui kesalahan perusahaan jika memang terjadi kegagalan layanan. Transparansi ini tidak menurunkan wibawa perusahaan, justru meningkatkan kredibilitas. Dalam konteks B2B, permintaan maaf yang profesional menunjukkan akuntabilitas korporat.
4. Berikan Solusi yang Solutif dan Cepat (Fast Response)
Pelanggan tidak hanya butuh permintaan maaf, mereka butuh solusi konkret. Tawarkan opsi penyelesaian yang realistis dan jelaskan langkah-langkah yang akan diambil. Kecepatan adalah kunci; di era instan ini, waktu tunggu yang lama dianggap sebagai bentuk pengabaian.
Pastikan tim Anda mematuhi Service Level Agreement (SLA) yang telah ditetapkan. Jika solusi membutuhkan waktu, berikan estimasi waktu (ETA) yang akurat. Untuk menjaga konsistensi kecepatan, penerapan SLA untuk layanan konsisten menjadi mutlak diperlukan.
5. Ucapkan Terima Kasih atas Masukan Pelanggan
Terdengar kontraintuitif, namun Anda harus berterima kasih kepada pelanggan yang mengeluh. Mereka telah meluangkan waktu untuk memberi tahu Anda tentang kelemahan bisnis Anda, alih-alih langsung pergi ke kompetitor.
Ucapkan, “Terima kasih telah memberitahu kami mengenai isu ini, masukan Anda sangat berharga untuk perbaikan layanan kami.” Ini mengubah kerangka berpikir dari “konflik” menjadi “kolaborasi”. Pelanggan merasa kontribusi mereka dihargai dan berdampak positif.
6. Tetap Tenang dan Jangan Bawa Perasaan (Baper)
Agen layanan pelanggan adalah garda terdepan yang sering menerima luapan emosi. Sangat penting untuk melatih tim agar tidak mengambil hati atas kata-kata kasar pelanggan. Pertahankan profesionalisme dan nada bicara yang tenang, bagaimanapun provokatifnya situasi tersebut.
Ingatlah bahwa kemarahan pelanggan ditujukan pada situasi atau produk, bukan pada pribadi staf Anda. Ketenangan adalah alat de-eskalasi yang paling ampuh. Jika agen ikut terpancing emosi, masalah sederhana bisa berubah menjadi krisis PR.
7. Lakukan Tindak Lanjut (Follow-up) Setelah Masalah Selesai
Penyelesaian masalah tidak berhenti saat tiket ditutup. Lakukan follow-up beberapa hari setelah solusi diberikan untuk memastikan masalah benar-benar tuntas dan pelanggan puas dengan hasilnya. Ini adalah extra mile yang jarang dilakukan kompetitor.
Kontak pasca-layanan ini menunjukkan bahwa perusahaan Anda benar-benar peduli, bukan hanya sekadar ingin menutup kasus (“ticket closing mentality”). Ini juga momen yang tepat untuk meminta feedback mengenai kualitas penanganan layanan yang telah diberikan.
8. Dokumentasikan Keluhan sebagai Bahan Evaluasi
Setiap keluhan harus tercatat dalam sistem terpusat, bukan hanya di ingatan staf atau catatan manual yang tercecer. Dokumentasi yang rapi memungkinkan Anda melihat tren masalah yang berulang. Apakah ada lonjakan keluhan setelah update produk tertentu?
Selain itu, pencatatan yang baik juga berkaitan dengan kepatuhan data. Jika keluhan melibatkan data sensitif pelanggan, pastikan penyimpanannya sesuai dengan regulasi privasi seperti UU PDP. Anda bisa menggunakan sistem yang mendukung Omnichannel ticketing system untuk sentralisasi dokumentasi.
Adaptist Prose: Solusi untuk Keluhan Pelanggan
Mengelola delapan langkah di atas secara manual sangatlah mustahil jika volume keluhan meningkat. Disparitas saluran komunikasi (WhatsApp, Email, Instagram) membuat pelacakan masalah menjadi mimpi buruk logistik. Di sinilah Adaptist Prose hadir sebagai solusi.
Adaptist Prose adalah platform manajemen tiket berbasis AI yang menyatukan seluruh interaksi pelanggan ke dalam satu dashboard intuitif (Omnichannel). Tidak ada lagi pesan yang terlewat atau tumpang tindih antar staf. AI dalam Prose secara otomatis mengklasifikasikan tiket dan memberikan prioritas, sehingga tim Anda bisa fokus pada penyelesaian masalah, bukan administrasi data.
Fitur unggulan Adaptist Prose yang mendukung manajemen keluhan meliputi:
- Centralized Dashboard: Memantau status tiket dari berbagai saluran dalam satu layar, memudahkan supervisi dan kolaborasi tim.
- SLA Management: Notifikasi otomatis jika respons tiket mendekati batas waktu yang ditentukan, menjamin kepatuhan terhadap standar layanan.
- Automated Workflow: Mengarahkan keluhan teknis langsung ke tim IT dan keluhan tagihan ke tim Finance tanpa perantara manual.
Dengan dukungan Adaptist Prose, perusahaan Anda dapat membangun ekosistem digital yang aman, hemat waktu, dan siap berkembang tanpa mengorbankan perlindungan data atau kenyamanan pengguna.



