
Pentingnya MFA dalam Keamanan Akses Modern?
November 17, 2025
Mengapa Banyak Organisasi Gagal Mengelola GRC dengan Efektif
November 18, 2025Manajemen Risiko Operasional dan Perannya dalam Stabilitas Bisnis Modern

Manajemen risiko operasional tidak lagi sekadar prosedur yang muncul saat audit tahunan. Di lingkungan bisnis modern yang penuh aplikasi, proses otomatis, dan alur kerja lintas departemen, risiko operasional hadir setiap hari. Dalam lingkungan korporasi modern, risiko ini tersembunyi di balik kegagalan sistem, kesalahan manusia (human error), atau ketidakpastian prosedur internal.
Bagi perusahaan skala enterprise, pendekatan reaktif—menangani masalah hanya saat terjadi—sudah tidak lagi relevan. Anda memerlukan strategi Operational Risk Management (ORM) yang terstruktur untuk mengubah ketidakpastian menjadi stabilitas operasional yang terukur.
Apa Itu Manajemen Risiko Operasional?
Operational Risk Management (ORM) adalah proses berkelanjutan yang mencakup penilaian risiko, pengambilan keputusan risiko, dan penerapan kontrol risiko, yang berfokus pada risiko yang timbul dari kegagalan proses internal, manusia, dan sistem. Berbeda dengan risiko strategis yang berkaitan dengan kompetisi pasar, ORM menangani bahaya yang melekat pada aktivitas harian organisasi.
Operational Risk Management (ORM) dapat dipahami sebagai sistem pengamanan internal yang bertujuan menjaga kestabilan perusahaan dengan mengelola risiko yang bersumber dari dalam (internal), seperti potensi kekeliruan manusia, gangguan sistem, atau ketidaksesuaian prosedur. Fokus utamanya bukan pada persaingan pasar, melainkan memastikan bahwa seluruh aktivitas operasional harian berjalan dengan tertib, aman, dan konsisten, sehingga perusahaan dapat beroperasi dengan lancar tanpa gangguan yang tidak diharapkan dari faktor internal.
Dalam praktiknya, tujuan fundamental dari ORM adalah melindungi organisasi dari kerugian finansial dan kerusakan reputasi akibat kurang efisiennya operasional. Implementasi ORM yang efektif memberikan visibilitas penuh kepada manajemen, memungkinkan Anda mendeteksi kerentanan yang mungkin terjadi sebelum menjadi insiden yang fatal
Baca Juga : Software Pengelolaan Risiko Bisnis untuk Meningkatkan Keamanan Data
Sumber Risiko Operasional yang Sering Ditemui
- Kesalahan Proses: Risiko ini muncul dari alur kerja yang tidak konsisten, SOP yang kadaluarsa, atau ketiadaan dokumentasi yang jelas. Ketidateraturan ini sering kali berujung pada inefisiensi biaya atau kegagalan audit kepatuhan.
- Faktor Manusia: Karyawan adalah aset terbesar sekaligus celah risiko yang signifikan, mulai dari kurangnya pelatihan, kelalaian, hingga penyalahgunaan akses (insider threat). Mengelola hak akses karyawan sangat krusial untuk menekan risiko ini.
- Kegagalan Sistem atau Teknologi: Gangguan pada integrasi aplikasi, downtime server, atau serangan siber merupakan ancaman nyata. Manajemen insiden yang buruk di sektor ini dapat melumpuhkan layanan pelanggan seketika.
- Faktor Eksternal: Ancaman yang berasal dari luar kendali perusahaan, seperti perubahan regulasi mendadak (misalnya UU PDP), bencana alam, atau kegagalan layanan dari vendor pihak ketiga.
Pelajari UU PDP
Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) adalah aturan yang mengatur bagaimana data pribadi harus dikelola dan dilindungi, sekaligus menjelaskan hak pemilik data serta tanggung jawab pihak yang mengolahnya.
UU PDP
Perdalam pemahaman Anda dan pelajari ketentuannya secara menyeluruh dengan mengunduh PDF ini. Data Anda aman dengan kami!
Pendekatan Terstruktur dalam Mengelola Risiko Operasional
Mengelola risiko operasional membutuhkan pendekatan yang tidak hanya teoritis, tetapi juga praktis dan mudah diterapkan dalam proses harian.
1. Identifikasi Risiko Sejak Awal
Langkah pertama adalah memetakan seluruh aktivitas bisnis untuk menemukan potensi bahaya. Dalam konteks perlindungan data, ini mirip dengan proses Record of Processing Activities (ROPA) yang memetakan aliran data untuk melihat celah kebocoran. Tanpa identifikasi yang akurat, Anda tidak dapat mengelola apa yang tidak Anda ketahui.
2. Menilai Dampak dan Kemungkinan
Setiap resiko harus diberi nilai berdasarkan 2 metrik utama yaitu seberapa sering kemungkinannya terjadi (frekuensi) dan seberapa besar kerugian yang ditimbulkan karenanya (dampak). Gunakan metrik peniaian risiko untuk memprioritaskan permasalahan yang menjadi prioritas dalam penaganan terutama yang berdampak pada Risk Assessment Framework perusahaan.
3. Menetapkan Kontrol yang Terukur
Setelah risiko dinilai, terapkan kontrol mitigasi(langkah untuk menekan risiko dan dampaknya) yang spesifik. Kontrol ini bisa berupa kebijakan persetujuan bertingkat, enkripsi data, atau penerapan Multi-Factor Authentication (MFA) untuk membatasi akses tidak sah ke sistem kritis. Tujuannya adalah menurunkan risiko ke level yang dapat diterima (acceptable risk level).
4. Memantau dan meninjau secara rutin
Lingkungan bisnis berubah dengan cepat. Risiko baru bisa muncul seiring bertambahnya aplikasi atau perubahan alur kerja. Monitoring diperlukan agar perusahaan tidak terjebak pada pendekatan lama.
5. Menyediakan Evidensi dan Dokumentasi
Dokumentasi adalah kunci dalam audit. Pastikan setiap langkah mitigasi, insiden yang terjadi, dan perbaikan yang dilakukan tercatat dalam sistem terpusat. Hal ini memudahkan proses Evidence Management saat Anda menghadapi auditor eksternal.
Perbedaan ORM dan ERM: Memahami Konteks
Seringkali terjadi kebingungan antara Operational Risk Management (ORM) dan Enterprise Risk Management (ERM). Meskipun keduanya saling terkait, cakupan dan fokusnya berbeda secara fundamental.
ERM adalah kerangka kerja menyeluruh yang mencakup seluruh risiko organisasi, termasuk risiko strategis, finansial, reputasi, dan operasional. ERM berfokus pada risiko tingkat tinggi yang mempengaruhi visi jangka panjang perusahaan dan nilai pemegang saham.
Sebaliknya, ORM adalah bagian spesifik dari ERM yang berfokus secara mendalam pada proses harian. Jika ERM memutuskan “ke mana kapal akan berlayar”, ORM memastikan prioritas dan tujuan jangka panjang selama perjalanan. Bagian dari keduanya diperlukan untuk menciptakan pertahanan bisnis yang menyeluruh.
Tantangan yang Dihadapi Perusahaan Saat Mengelola Risiko Operasional
Tantangan terbesar yang dihadapi perusahaan saat ini adalah fragmentasi data(data yang tersebar dan tidak terintegrasi). Banyak organisasi masih mengandalkan spreadsheet manual yang terpisah antar departemen untuk mencatat risiko.
Pendekatan manual ini menciptakan “silo data”, di mana tim Legal tidak mengetahui risiko yang dihadapi tim IT, dan sebaliknya. Hal ini menyebabkan respons yang lambat terhadap insiden dan kesulitan luar biasa saat menyusun laporan untuk regulator.
Platform terintegrasi seperti Adaptist Privee mengatasi masalah ini dengan menyediakan Single Source of Truth (SSOT), memungkinkan kolaborasi lintas tim dalam satu dashboard yang transparan.
Baca Juga : Third-Party Risk Management: Mengurangi Risiko Vendor di Era Digital
Case Study : Konsekuensi Fatal Akibat Kegagalan Manajemen Risiko
1. Target: Celah Keamanan dari Pihak Ketiga (Vendor Risk)
Pada tahun 2013, perusahaan ritel raksasa Target mengalami kebocoran data besar yang mengekspos informasi pribadi sekitar 70 juta pelanggan serta detail kartu pembayaran milik lebih dari 40 juta pengguna. Serangan ini tidak dilakukan langsung terhadap server inti Target, melainkan melalui kredensial vendor pihak ketiga yang memiliki akses ke jaringan internal mereka.
Akibat insiden tersebut, Target menanggung biaya pemulihan dan penyelesaian hukum yang dilaporkan mencapai lebih dari USD 162 juta, menghadapi tuntutan hukum massal, serta mengalami kerusakan reputasi signifikan yang pada akhirnya menyebabkan CEO Target saat itu mengundurkan diri. (source: TGhe uardian)
2. Knight Capital Group: Kehancuran Finansial dalam 45 Menit
Pada tahun 2012, Knight Capital Group — sebuah perusahaan jasa keuangan global yang bergerak di perdagangan saham — mengalami kerugian besar akibat kesalahan pada perangkat lunak trading otomatis mereka. Pada 1 Agustus 2012, sebuah program trading yang bermasalah mengirimkan jutaan order beli dan jual secara cepat ke pasar hanya dalam hitungan menit, menyebabkan perdagangan yang tidak semestinya dan kerugian besar bagi perusahaan.
Dalam waktu sekitar 45 menit, Knight Capital menderita kerugian sekitar USD 440 juta, yang hampir menghabiskan sebagian besar modalnya dan membuat saham perusahaan jatuh tajam. Akibatnya, perusahaan kehilangan kepercayaan investor dan harus mencari pendanaan darurat serta kemudian setuju untuk bergabung dengan perusahaan lain demi menghindari kebangkrutan total. (source: The New York Times)
Dampak Positif dari Manajemen Risiko yang Lebih Rapi
Penerapan ORM yang matang bukan hanya soal menghindari masalah, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi perusahaan:
- Stabilitas Operasional: Proses bisnis berjalan lebih konsisten dengan meminimalisir gangguan mendadak yang merugikan produktivitas.
- Keputusan Berbasis Data: Manajemen memiliki landasan data yang kuat dan akurat dalam mengambil keputusan strategis, bukan sekadar asumsi.
- Mitigasi Proaktif: Kemampuan mendeteksi dan menangani risiko di tahap awal sebelum berkembang menjadi krisis besar yang memakan biaya pemulihan tinggi Incident Management.
- Kesiapan Audit: Dokumentasi yang rapi dan kontrol yang teruji mempermudah pemenuhan regulasi, mengurangi waktu persiapan audit.
Transformasi Risiko Menjadi Kendali Terpusat dengan dukungan Adaptist Privee
Di era di mana data adalah aset sekaligus liabilitas terbesar, manajemen risiko operasional tidak bisa lagi dijalankan secara manual atau terfragmentasi. Ketergantungan pada spreadsheet untuk memetakan alur kerja yang kompleks hanya akan menciptakan kerentanan yang berbahaya bagi kelangsungan bisnis Anda.
Untuk mencapai stabilitas yang sesungguhnya, Anda membutuhkan sistem yang mampu mengubah ketidakpastian menjadi visibilitas yang terukur. Adaptist Privee hadir bukan sekadar sebagai alat pemenuhan regulasi, melainkan sebagai fondasi infrastruktur risiko perusahaan.
Adaptist Privee memungkinkan Anda memetakan seluruh aktivitas pemrosesan data (ROPA) dan mengidentifikasi risiko vendor melalui Third Party Risk Assessment dalam satu dasbor terintegrasi. Ini adalah langkah definitif untuk memangkas inefisiensi audit hingga 70% dan memastikan setiap celah operasional tertutup rapat sebelum menjadi insiden.
Dengan dukungan Adaptist Privee, perusahaan Anda dapat membangun ekosistem digital yang aman, hemat waktu, dan siap berkembang tanpa mengorbankan perlindungan data atau kenyamanan pengguna.
FAQ: Pertanyaan Umum Seputar ORM
- Apakah ORM wajib bagi semua perusahaan? Meskipun regulasi spesifik bervariasi tiap industri, setiap bisnis perlu mengelola risiko operasional untuk mencegah kerugian finansial. Bagi industri yang teregulasi ketat seperti perbankan dan fintech, ORM adalah mandat kepatuhan.
- Apa alat terbaik untuk mengelola risiko operasional? Hindari penggunaan spreadsheet manual. Gunakan platform GRC (Governance, Risk, and Compliance) terintegrasi seperti Adaptist yang menggabungkan manajemen risiko, kepatuhan data, dan keamanan dalam satu sistem.
- Bagaimana cara mengukur keberhasilan implementasi ORM? Keberhasilan dapat diukur dari penurunan jumlah insiden operasional, pengurangan kerugian finansial akibat risiko, serta kecepatan waktu pemulihan (recovery time) saat insiden terjadi.



